To hold on to sanity too tight is insane

A lady with paradox chemical running thickly in her blood. Loves to laugh but can be very cynical. As cold as the winter breeze then will blow you with a roaring fire. A sinister of love yet a fool in romance. Complicated though easy to simplify. Basically, I'm just trying to revive myself here...and thank you for listening to my insane rambling.

Thursday, July 15, 2004

akhirnya

berakhir...
tugas gw sebagai ibu asuh.
Huaaah...rasanya ingin menguap lebar2 dan tidur seharian.
Sayang, itu tak mungkin (sambil cemberut, nih, nulisnya).

Enak enggak karantina?" tanya seorang teman tadi malam di telepon.

"Hmm...enak, sih. Tapi lebih enak finalisnya,"jawabku malas-malasan sambil memperhatikan rak buku di rumahku.

"Emang ngapain ajah?" temanku bertanya lagi.

"Gw paling iri waktu mereka dapat paket treatment Rp. 600.000 di Daun Spa. Terus bisa ikut gokart, gue kan enggak pernah main gokart! Terus dapat jam Esprit yang sumpah keren banget! Dapat voucher Matahari satu jeti! Belum lagi hadiah2 lain. Maan!" curhatku panjang lebar (eits, perkataan gue bukan promosi produk, lho!).

"Lo enggak dapat apa2?" tanya temanku sambil tertawa.

"Gw sempat ikutan bowling di PIN PI. Enak juga, yah? Dinner di tempat2 mahal juga, sih. Sambil ketemu seleb pula. Dapat goody bag. Tapi, ada pengalaman berharga banget yang gue dapat dari karantina," sekarang bibirku mulai tersenyum waktu menjelaskan ini.

"Apa?"

"Gue berhasil men-treatment beberapa finalis! Ada yang tadinya sombong, setelah gue treatment, kepalanya lebih mengecil. Terus, yang mukanya stres tiap nyanyi, berhasil terlihat rileks dan happy kelar gue kasih wejangan..he-he-he.. Intinya gue benar-benar belajar gimana rasanya jadi ibu yang punya anak cewek. Dan itu enggak gampang," ujarku riang.

Ada seseorang yang sangat gue rindukan selama gue ikut dikarantina.

My mom.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home